Beribu bintang menemani gelapnya langit yang hitam, sunyi yang membuat suasana semakin hampa. Suara hewan bertaring yang menemaniku malam itu sambil berbaring diri di tempat tidur berwarna ungu itu. Semakin lama, suara anjing itu semakin misterius, tatkala seperti angin yang datang dan pergi begitu saja. Dua mataku begitu sulit untuk dipejamkan, padahal esok aktivitasku sebagai siswi semakin padat. Aku terus memaksa untuk memejamkan dua mataku ini, tetapi tetap saja tak bisa karena membayangkan kejadian yang terjadi silang waktu ketika aku sedang sakit dan tinggal menyendiri dikamar temanku.
Sakit yang terus menerus
menghampiriku, membuatku sering tak hadir mengikuti proses belajar mengajar
disekolahku. Sakitku ini membuatku terbaring lemah terus-menerus, sakit yang
kualami sejak itu membuatku sering membayangkan hal yang aneh tapi nyata, hanya
rasa takut yang selalu menyelimutiku dikala sakit ini melandaku. Rasa takut itu
bukanlah rasa takut biasa, rasa takut itu muncul ketika aku sedang bermimpi
disaat aku tertidur lelap karena penyakit yang kualami begitu misterius.
Tertidurlah aku saat itu dengan
sendiri, tiba-tiba aku memimpikan sesuatu yang aneh yang tak lain didalm
mimpiku itu, aku tengah berbincang-bincang sambil tertawa-tawa dengan seorag
nenek yang berambut putih beruban menandakan umur sang nenek sangatlah tua. Di
dalam mimpiku saat itu, sang nenek memperkenalkanku dengan cucunya yang setia
menemaninya, akupun saling berkenalan dengan cucu sang nenek. Tak lama
kemudian, dengan sangat aneh cucu sang nenek yang selalu menemaninya dimanapun
ia pergi tiba-tiba berubah menjadi hewan yang bertaring yang mempunyai suara
kekhasan yang membuat orang-orang takut dengan hewan itu. Cucu sang nenek itu
berubah menjadi hewan yang dikenal dengan nama anjing.
Mimpiku terus bercerita, semakin
lama mimpiku saat itu semakin aneh. Ketika aku sedang tertidur lelap oleh mimpi
anehku, Tak ada seorangpun yang menemaniku, yang menjagaku dan yang melihat
kejadian yang kualami saat itu. Ditengah lelapnya tidurku, tiba-tiba suara
bisikan dan tiupan angin kecil yang menggelitik telinga kiriku, membuatku terbangun
dari tidurku. Kubuka perlahan kedua mataku, dan kulepaskan bantal guling yang tengah
kupeluk saat itu dan kuubah posisi tidurkuku yang semulanya menghadap ke tembok
menjadi menghadap kearah tiupan yang membangunkanku dari tidurku. Aku terus
menerus mencari suara dan tiupan angin misterius itu, tetapi ketika aku
mencarinya dengan cara mengubah posisi tidurku, aku tetap tak berhasil
menemukan hal misterius itu.
Tak lama kemudian tiupan dan
bisikan itu kembali menggangguku, kubuka kembali mataku dengan perlahan-lahan,
dan tiba-tiba entah kenapa mataku langsung mengarah tembok yang berada diujung
tempat tidur temanku yang saat itu kosong tak berpenghuni, karena saat itu semua
penghuni asrama masih berada disekolah melakukan proses belajar kecuali aku.
Dipojok tembok tempat tidur temanku, aku melihat sang nenek yang tak jelas
wajahnya karena saat itu penglihatanku masih samar-samar mungkin karena factor
baru bangun dari tidurku. Sang nenek yang saat itu aku tatap lama karena tak
jelas wajahnya membuatku penasaran. Aku melihat sang nenek saat itu sedang
membawa tongkat dan dibelkangnya dua ekor anjing tengah menemaninya seperti
dalam mimpiku, sambil menatapku yang tengah berbaring lemah ditempat tidur
temanku. Karena rasa takut mulai muncul, maka segera aku memejamkan mataku dan
kembali tertidur agar aku melupakan semua yang telah aku alami dan aku lihat
saat itu.
Ketika beberapa waktu kemudian,
suara teman-temanku yang baru datang dari sekolah membuatku kembali terbangun
dari tidurku. Aku terbangun dari tidurku, tapi aneh rasanya. Badanku sangat
sakit, seperti habis terajatuhi oleh beban yang sangat berat. Ku gerakkan
perlahan-lahan tubuhku, aku menatap tanganku yang saat itu sulit untuk aku
gerakkan, dan ketika aku melihat tanganku, tiba-tiba bercak-bercak biru
menumbuhi tanganku. Entah dari mana aslanya, mungkin karena factor mimpi dan
yang baru saja aku alami, yaitu bertemu dengan sang nenek misterius.
Saat kejadian itu, aku terus
menerus sakit. Malah sakitku semakin parah, perutku selalu kesakitan, kepalaku
selalu mersakan sakit yang sangat sakit sperti tertusuk bambu. Tetapi semenjak
aku berobot diberbagai ahli baik tradisional maupun medis, penyakitkupun
semakin lama semakin redah. Dan 5 bulan kemudian, akhirnya penyakit yang dulu
kualami hilang meskipun tak semua hilang.
Setelah kejadian itu, rasa
penasaran terus menghampiriku. Sang nenek itu kerap dikenal sering bahkan
setiap hari berkeliaran pada saat larutnya malam, sekitar jam 3 malam. Karena
dengan rasa penasarankupun, aku berani bangun saat-saat sang nenek tengah
berkeliaran didepan asrama. Aku terbangun hanya karena rasa penasaran, dengan
rasa penasaran itu kakikupun tak ragu untuk melangkah ke pintu utama asrama yang
bercat coklat itu. Jam 3 aku masih berkeliaran hanya untuk menunggu sang nenek
lewat, padahal seluruh penghuni asrama sudah tertidur lelap ditemani oleh
mimpi-mimpinya. Beda dengan aku yang masih berkeliaran mondar-mandir.
Akhirnya rasa penasarankupun terjawab
ketika aku tengah menunggu sang nenek lewat di depan asrama. Saat itu aku
melihat sang nenek dengan dua anjingnya yang setia menemaninya berjalan
dibelakngnya, sang nenek saat itu sedang memegang tongkat dan mencari sesuatu
di tempat sampah, entah mencari apakah dia. Aku terus mengintipnya dari
jendela. Dan tiba-tiba penglihatanku yang dari tadi terarah pada sang nenek dan
2 anjing yang setia menemaninya hilang begitu cepat. Ketika itu, akupun putus
asa dan segera kembali kekamar untuk melanjutkan tidurku.
Ketika aku berbalik arah menju
kamarku, tiba-tiba entah kenapa susah rasanya untuk berjalan. Malah aku seperti
terbawa oleh susasana untuk tetap melihat kembali apa yang sedang sang nenek lakukan.
Ketika itu pula aku melanjutkan misiku untuk tetap melihat apa yang sedang sang
nenek lakukan, aku kembali mendekati jendela dan kembali mencari sang nenek.
Tidak lama kemudian, kudekatkan wajahku kekaca jendela dan tiba-tiba wajah sang
nenek sudah tiba didepanku sambil menatapku dengan mata sinis. Sehingga
membuatku ketakutan dan lari terjirit-jirit ke kamarku kembali.
Sesampainya aku ditempat tidur,
akupun menenangkan diriku dan berusaha melupakan semua yang telah terjadi saat
itu. Tetapi semua itu tidak mudah dan bahkan tidak bias untuk aku lupakan. Ketika
kejadian itupun, aku kembali menjadi orang yang sakit-sakitan sampai
berbulan-bulan. Mataku berubah menjadi hitam, tingkahkupun ikut berubah. Sekian
lama aku mengalami sakit yang sangat parah itu, akupun tak niat untuk
mengulangnya kembali. Tetapi ketika kejadian itu, aku mulai sering mudah
mendapatkan hal-hal yang misterius. Tetapi aku tak ingin untuk
membesar-besarkan semua hal itu. Cukup aku yang alami, dan jangan sampai ada
orang yang kedua mengalainya.
Sebelum tidur, aku tak akan pernah
bisa tidur sebelum mendengarkan suara bersiul yang entah darimana. Ketika suara
siulan itu terdengar, mataku akan tertidur. Suara siulan itu sudah menjadi
bahan pembicaraan sejak awal asrama ini di bangun. Jangan sampai suara siulan
ini, menjadi alasan bahwa tidur tidak akan terasa nyaman. Suara siulan yang
selalu terdengar ditelingaku ini bagaikan teman dekatku yang bernyanyi untuk
memudahkanku tidur, walaupun suaranya siulan ini kerap dikenal suara seram yang
misterius. Tapi bagiku itu adalah teman.