Jumat, 31 Oktober 2014

Teman Baru (Misterius)


             Beribu bintang menemani gelapnya langit yang hitam, sunyi yang membuat suasana semakin hampa. Suara hewan bertaring yang menemaniku malam itu sambil berbaring diri di tempat tidur berwarna ungu itu. Semakin lama, suara anjing itu semakin misterius, tatkala seperti angin yang datang dan pergi begitu saja. Dua mataku begitu sulit untuk dipejamkan, padahal esok aktivitasku sebagai siswi semakin padat. Aku terus memaksa untuk memejamkan dua mataku ini, tetapi tetap saja tak bisa karena membayangkan kejadian yang terjadi silang waktu ketika aku sedang sakit dan tinggal menyendiri dikamar temanku.

Sakit yang terus menerus menghampiriku, membuatku sering tak hadir mengikuti proses belajar mengajar disekolahku. Sakitku ini membuatku terbaring lemah terus-menerus, sakit yang kualami sejak itu membuatku sering membayangkan hal yang aneh tapi nyata, hanya rasa takut yang selalu menyelimutiku dikala sakit ini melandaku. Rasa takut itu bukanlah rasa takut biasa, rasa takut itu muncul ketika aku sedang bermimpi disaat aku tertidur lelap karena penyakit yang kualami begitu misterius.
Tertidurlah aku saat itu dengan sendiri, tiba-tiba aku memimpikan sesuatu yang aneh yang tak lain didalm mimpiku itu, aku tengah berbincang-bincang sambil tertawa-tawa dengan seorag nenek yang berambut putih beruban menandakan umur sang nenek sangatlah tua. Di dalam mimpiku saat itu, sang nenek memperkenalkanku dengan cucunya yang setia menemaninya, akupun saling berkenalan dengan cucu sang nenek. Tak lama kemudian, dengan sangat aneh cucu sang nenek yang selalu menemaninya dimanapun ia pergi tiba-tiba berubah menjadi hewan yang bertaring yang mempunyai suara kekhasan yang membuat orang-orang takut dengan hewan itu. Cucu sang nenek itu berubah menjadi hewan yang dikenal dengan nama anjing. 
Mimpiku terus bercerita, semakin lama mimpiku saat itu semakin aneh. Ketika aku sedang tertidur lelap oleh mimpi anehku, Tak ada seorangpun yang menemaniku, yang menjagaku dan yang melihat kejadian yang kualami saat itu. Ditengah lelapnya tidurku, tiba-tiba suara bisikan dan tiupan angin kecil yang menggelitik telinga kiriku, membuatku terbangun dari tidurku. Kubuka perlahan kedua mataku, dan kulepaskan bantal guling yang tengah kupeluk saat itu dan kuubah posisi tidurkuku yang semulanya menghadap ke tembok menjadi menghadap kearah tiupan yang membangunkanku dari tidurku. Aku terus menerus mencari suara dan tiupan angin misterius itu, tetapi ketika aku mencarinya dengan cara mengubah posisi tidurku, aku tetap tak berhasil menemukan hal misterius itu.
Tak lama kemudian tiupan dan bisikan itu kembali menggangguku, kubuka kembali mataku dengan perlahan-lahan, dan tiba-tiba entah kenapa mataku langsung mengarah tembok yang berada diujung tempat tidur temanku yang saat itu kosong tak berpenghuni, karena saat itu semua penghuni asrama masih berada disekolah melakukan proses belajar kecuali aku. Dipojok tembok tempat tidur temanku, aku melihat sang nenek yang tak jelas wajahnya karena saat itu penglihatanku masih samar-samar mungkin karena factor baru bangun dari tidurku. Sang nenek yang saat itu aku tatap lama karena tak jelas wajahnya membuatku penasaran. Aku melihat sang nenek saat itu sedang membawa tongkat dan dibelkangnya dua ekor anjing tengah menemaninya seperti dalam mimpiku, sambil menatapku yang tengah berbaring lemah ditempat tidur temanku. Karena rasa takut mulai muncul, maka segera aku memejamkan mataku dan kembali tertidur agar aku melupakan semua yang telah aku alami dan aku lihat saat itu. 
Ketika beberapa waktu kemudian, suara teman-temanku yang baru datang dari sekolah membuatku kembali terbangun dari tidurku. Aku terbangun dari tidurku, tapi aneh rasanya. Badanku sangat sakit, seperti habis terajatuhi oleh beban yang sangat berat. Ku gerakkan perlahan-lahan tubuhku, aku menatap tanganku yang saat itu sulit untuk aku gerakkan, dan ketika aku melihat tanganku, tiba-tiba bercak-bercak biru menumbuhi tanganku. Entah dari mana aslanya, mungkin karena factor mimpi dan yang baru saja aku alami, yaitu bertemu dengan sang nenek misterius.
Saat kejadian itu, aku terus menerus sakit. Malah sakitku semakin parah, perutku selalu kesakitan, kepalaku selalu mersakan sakit yang sangat sakit sperti tertusuk bambu. Tetapi semenjak aku berobot diberbagai ahli baik tradisional maupun medis, penyakitkupun semakin lama semakin redah. Dan 5 bulan kemudian, akhirnya penyakit yang dulu kualami hilang meskipun tak semua hilang.
Setelah kejadian itu, rasa penasaran terus menghampiriku. Sang nenek itu kerap dikenal sering bahkan setiap hari berkeliaran pada saat larutnya malam, sekitar jam 3 malam. Karena dengan rasa penasarankupun, aku berani bangun saat-saat sang nenek tengah berkeliaran didepan asrama. Aku terbangun hanya karena rasa penasaran, dengan rasa penasaran itu kakikupun tak ragu untuk melangkah ke pintu utama asrama yang bercat coklat itu. Jam 3 aku masih berkeliaran hanya untuk menunggu sang nenek lewat, padahal seluruh penghuni asrama sudah tertidur lelap ditemani oleh mimpi-mimpinya. Beda dengan aku yang masih berkeliaran mondar-mandir.
Akhirnya rasa penasarankupun terjawab ketika aku tengah menunggu sang nenek lewat di depan asrama. Saat itu aku melihat sang nenek dengan dua anjingnya yang setia menemaninya berjalan dibelakngnya, sang nenek saat itu sedang memegang tongkat dan mencari sesuatu di tempat sampah, entah mencari apakah dia. Aku terus mengintipnya dari jendela. Dan tiba-tiba penglihatanku yang dari tadi terarah pada sang nenek dan 2 anjing yang setia menemaninya hilang begitu cepat. Ketika itu, akupun putus asa dan segera kembali kekamar untuk melanjutkan tidurku. 
Ketika aku berbalik arah menju kamarku, tiba-tiba entah kenapa susah rasanya untuk berjalan. Malah aku seperti terbawa oleh susasana untuk tetap melihat kembali apa yang sedang sang nenek lakukan. Ketika itu pula aku melanjutkan misiku untuk tetap melihat apa yang sedang sang nenek lakukan, aku kembali mendekati jendela dan kembali mencari sang nenek. Tidak lama kemudian, kudekatkan wajahku kekaca jendela dan tiba-tiba wajah sang nenek sudah tiba didepanku sambil menatapku dengan mata sinis. Sehingga membuatku ketakutan dan lari terjirit-jirit ke kamarku kembali. 
Sesampainya aku ditempat tidur, akupun menenangkan diriku dan berusaha melupakan semua yang telah terjadi saat itu. Tetapi semua itu tidak mudah dan bahkan tidak bias untuk aku lupakan. Ketika kejadian itupun, aku kembali menjadi orang yang sakit-sakitan sampai berbulan-bulan. Mataku berubah menjadi hitam, tingkahkupun ikut berubah. Sekian lama aku mengalami sakit yang sangat parah itu, akupun tak niat untuk mengulangnya kembali. Tetapi ketika kejadian itu, aku mulai sering mudah mendapatkan hal-hal yang misterius. Tetapi aku tak ingin untuk membesar-besarkan semua hal itu. Cukup aku yang alami, dan jangan sampai ada orang yang kedua mengalainya. 
Sebelum tidur, aku tak akan pernah bisa tidur sebelum mendengarkan suara bersiul yang entah darimana. Ketika suara siulan itu terdengar, mataku akan tertidur. Suara siulan itu sudah menjadi bahan pembicaraan sejak awal asrama ini di bangun. Jangan sampai suara siulan ini, menjadi alasan bahwa tidur tidak akan terasa nyaman. Suara siulan yang selalu terdengar ditelingaku ini bagaikan teman dekatku yang bernyanyi untuk memudahkanku tidur, walaupun suaranya siulan ini kerap dikenal suara seram yang misterius. Tapi bagiku itu adalah teman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar