Ho. Ho. Holiday.
Lirik lagu yang kudengar pagi itu.
Mengotak atik sahabat dekatku “smartphone”
sampai tak sadar berada di ruang percakapan. Aku bergegas membuka pintu ruang
tamu menuju teras rumah dengan maksud menyambut sejuknya suasana pagi yang
indah nan cerah terpancar di depan mataku sendiri. Suara ayam yang begitu
nyaring terdengar, tetap kunikmati. Namun sejenak pikiranku mengingat akan
sesuatu.
Sabtu, jadwal kosongku. Tak ada aktivitas
perkuliahan. Jadwal kosong hari itu adalah waktu yang tepat tuk menyelesaikan
“dia”, ya dia yang aku maksud adalah “tugas”. Sehelai kertas yang kusut selalu
berada di dalam tas yang menemaniku setiap perkuliahan, kertas kusut yang
begitu sakral dan sangat menjadi beban bagiku. Bagaimana tidak, kertas kusut
yang kumaksud itu menjadi beban? Dia merupakan tulisan tinta hitam di atas
kertas putih dengan tema “Warning”
yang berarti peringatan mengenai tugas-tugas perkuliahan yang harus
kuselesaikan secepatnya.
Puntondo, menjadi pilihan lokasi dari sekian banyak
lokasi masukan yang dipaparkan beberapa temanku untuk menyelesaikan tugas “Feature and Jurnalis Sastra” itu. Saat
mengetahui aku dan mereka “temanku” akan segera menuju Puntondo, rasa malas
yang terus menghampiriku. Ingin aku menikmati hari kekosonganku dengan penuh
istirahat, tetapi semua berubah secara mendadak melihat antusias mereka untuk
menyelesaikan tugas dengan seksama tepat hari Sabtu 14 November 2017.
Langkahku kupercepat untuk bersiap. Setelah sekian
menit aku menyiapkan diri, segera kunyalakan mesin motor hitamku untuk menuju
kerumah temanku berkumpul dan menyiapkan beberapa hal yang harus dipersiapkan.
Grand Aroepala adalah lokasi rumah temanku yang menjadi saksi bisu awal
perjalanan kami menuju target lokasi.
Jarak Puntondo dari tempat tinggalku sangat jauh
bagiku, memakan waktu kurang lebih 2 jam lamanya. Puntondo berada tepat di
Kabupaten Takalar, Desa Laikang, Kecamatan Mangaroban, Dusun Puntondo dan aku
memulai perjalanan tepat pukul 13.50 WITA.
Meski memakan waktu yang begitu cukup lama, tetapi
kami menikmatinya. Suara-suara kendaraan yang menemani perjalanan yang begitu
terdengar seperti alunan musik, dan keramaian pengendara dengan berbagai
ekspresi wajah yang lucu akan apa yang mereka alami saat itu karena kemacetan.
Setiba perjalanan tepat dikawasan Takalar, dimana di
sambut dengan beberapa patung Pahlawan dan memasuki kawasan Dusun Puntondo yang
jauh dari kota, tetapi berkat masyarakatnya yang damai nan ramah membuat
perjalananku dengan temanku terasa nyaman untuk dinikmati.
Laut dan rumah-rumah kecil beratap merah bak
“Gasebo” menjadi suguhan terindah untuk pengunjung yang bertandang ke Puntondo.
Papan yang berwarna biru di setiap persimpangan bagitu setia menjadi penunjuk
arah. Kurang lebih 11km jarak antara Desa Laikang menuju lokasi PPLH Puntondo.
Akhirnya selang beberapa jam, tujuanku dan temanku
terlihat secara langsung. Pagar yang berwarna coklat kayu dengan bertuliskan
“PPLH Puntondo” menyambut kedatanganku dan temanku saat dilokasi. Dua pria yang
juga turut menyambut kedatangan kami setelah membuka pagar yang berwarna coklat
kayu yang ku maksud tadi.
Bertemu dengan petugas bagian daftar buku tamu
adalah aturan untuk memasuki lebih dalam kawasan PPLH Puntondo. Setiap
pengunjung diharapkan mengisi buku tamu yang tersedia untuk mendaftarkan diri
serta kendaraan yang digunakan pengunjung. Setelah semua beres, petugas akan
memberikan selembaran karcis untuk ditukarkan dibagian informasi nantinya.
Langkahku terus bergegas yang tak sabar memasuki
kawasan alam di PPLH Puntondo, dan tiba dibagian informasi untuk penukaran
karcis yang didapatkan sebelumnya, dan aku diwajibkan kembali melaporkan data
diri sebagai pengunjung dan diberikan selembar kupon dengan tariff harga sebesar
15.000 rupiah setiap orang.
Memiliki kupon tersebut menjadi kesempatan bagiku
sebagai pengunjung untuk menikmati makanan dan minuman yang semuanya berasal
dari rumput laut secara gratis direstoran yang tersedia. Keripik rumput laut dan
jus rumput laut adalah menu siangku saat itu.
Selang beberapa menit menikmati penyediaan yang ada
di restoran tersebut, aku segera bergegas dengan temanku untuk menjelajahi PPLH
Puntondo yang alamnya begitu indah dengan dibaluti angin yang sepoi-sepoi
menambah kesejukan saat itu. Begitu banyak arsitekturnya yang unik dan hebatnya
lagi, secara keseluruhan yang ada pada arsitekturnya murni berasal dari kayu
alami yang menjadi ciri khas tempat tersebut.
Tidak hanya arsitekturnya yang alami, bahkan
tegangan listriknya juga alami. Semua serba alami. Karena kesejukannya, semua
tumbuhan hidup bermekaran dengan penuh warna yang menjadi nilai tambah keindahan
PPLH Puntondo tersebut. Terkadang karena keindahan PPLH puntondo ini, banyak
yang menjadikan sebagai lokasi foto pre-wedding
yang membuktikan tempat ini layak di sebut salah satu tempat terindah yang ada
di Sulawesi Selatan.
Tidak hanya alamnya dan arsitekturnya yang nampak
jelas, di PPLH Puntondo memiliki berbagai fasilitas-fasilitas yang begitu
banyak, mulai dari Enviroment Program (Program
Lingkungan, Out Door Activity (Kegiatan
di luar ruangan), Snorkling
(Penjelajahan di bawah laut), Seminar Room
(Ruang seminar), Library
(Perpustakaan), Dormitory
(Asrama/penginapan), Restaurant (Tempan
Makan), Bungalow, Art & Souvenir shop juga tersedia.
Aku sebagai pengunjung begitu menikmati suasana perjalanan di dalam kawasan
PPLH Puntondo tersebut.
Perencanaan waktu kedatangan sangatlah penting, PPLH
Puntondo memiliki batas waktu kunjungan hanya sampai pukul 18.00 WITA saja.
Karena itu, siapa pun yang ingin dan penasaran untuk mengunjungi PPLH Puntondo
dan datang dari kejauhan, sebaiknya berangkat di pagi hari agar dapat menikmati
lebih lama pemandangan dan kesejukan alam yang dapat dirasakan di lokasi
tersebut.
Begitu pun bagi pengunjung yang ingin berangkat pada
sore hari boleh saja, tetapi ada baiknya pengunjung menyewa penginapan yang
tersedia di lokasi tersebut agar dapat menikmati lebih lama keindahan suasana
di lokasi PPLH Puntondo tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar