Aku terbangun di pagi hari yang mataharinya begitu
cerah, tak seperti cerahnya suasana hatiku saat ini. Aku mengira jika pulang ke
Kampung halaman adalah hal bahagia yang selalu dirasakan semua para pejuang
perantau. Nyatanya hal itu tak sama sekali kurasakan saat ini.
Semua ucapan dari berbagai mulut yang pernah
terlintas dipikiranku bahwa Pulang ke Kampung halaman membuat hati bahagia,
tapi yang tengah kurasakan saat ini adalah penyesalan. Aku menyadari bahwa
pulang ke Kampung halaman tak seindah yang ku dengar, aku menyesal.
Mataku menyapu ke seluruh langit-langit rumah,
menahan amarah dan emosi tangisku adalah tujuanku menatap ke arah tersebut.
Sungguh penyesalan dalam benakku ketika berada di kampung halaman, sebab aku
melihat suasana gelap yang menyelimuti keluargaku. Orang tuaku yang terlihat
akur dan baik-baik saja di depanku nyatanya tak seperti pikiranku.
Menahan tangis adalah hal yang paling aku benci,
pikiranku lelah karena beban yang begitu terus menumpuk dengan waktunya. Aku
mengira bahwa tugas yang begitu banyak menumpuk di hadapanku sebagai amanah
adalah hal yang aku benci, nyatanya melihat suasana gelap seperti saat ini yang
tengah menyelimuti keheningan rumahku adalah hal yang paling aku benci.
Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Aku
memiliki kakak yang lahir dibulan Desember. Tapi Desember adalah bulan yang
seperti duri yang menusuk kebahagiaan kakakku, nyatanya Desember adalah bulan
yang kami berdua paling ingat dibenak kami. Bulan Desember adalah bulan dimana
Orang tua kami selalu tak saling sapa. Aku berpikir bahwa suasana mereka tak
saling sapa adalah hadiah terburuk yang dirasakan disetiap Kakakku bertambah
usia.
Banyak komentar orang yang selalu terdengar
ditelingaku bahwa kehidupanku adalah kehidupan yang sempurna, layak untuk
dijadikan sebagai kebahagiaan. Namun semua tak seperti apa yang mereka
katakana.
Banyak yang bilang aku adalah gadis manja Orang
tuaku, sebab hampir setiap jam “handphone”
putih yang selalu menemaniku selalu bordering pertanda panggilan masuk dari
Orang tuaku yang menanyakan dimana dan sedang apa aku saat itu. Ya, semua itu
benar, aku dan mereka tak pernah “Miss
communication” dan aku bersyukur terlahir dari pasangan yang peduli
denganku. Tapi bukan berarti kehidupanku selalu bahagia. Di Dunia, tak ada
kehidupan yang sempurna seperti kesempurnaan Sang Pencipta.
Sempat pikiranku terlintas menyuruh mereka berpisah
saja, tapi aku takut. Kakakku selalu merasa bahwa dia tak layak lahir karena
bulan kelahirannya selalu menjadi bulan terburuk bagi keluarga kami. Beban
pikiranku dan kakakku dipenuhi berbagai masalah. Tapi kami mampu menutupi semua
itu. Bermuka dua adalah keahlian kami dalam menutupi masalah kami. Tapi benar,
hati tak mampu untuk terus menutupinya.
Terkadang disetiap celah waktu, aku mengingat awal
pertengkaran Orang tuaku. Saat itu usiaku masih berumur tujuh tahun, mengingat
kejadian saat itu air mataku tak mampu untuk kutahan lagi. Setiap goresan
kehidupanku yang paling menyakitkan pasti selalu teringat dan setetes demi
tetes air mataku pun membasahi pipiku.
Saat suasana seperti ini pun pikiranku hilang dan
tak tahu harus bagaimana. Diam dan mendoakan mereka adalah hal yang terbaik
untuk saat ini. Aku dan kakakku bahkan mencoret bulan Desember dengan tinta
hitam, dan kakakku tak pernah lagi merasakan ulang tahun yang sempurna seperti
saat dia berumur 10 tahun.
Kami berdua tak mengharapkan kedatangan bulan
kelahiran kakakku, sebab selalu nyata bahwa suasana gelap dan keheningan
keluargaku selalu datang saat bulan Desember.
Kehidupan manusia bagaikan ombak, ombak yang kadang
terus mengalir dan kadang juga beristirahat. Kadang kehidupan Indah dan kadang
membawa bencana.
Suara kendaraan begitu jelas terdengar ditelingaku,
letak rumahku di kampung halaman tepat berada di pinggir jalan poros yang
kendaraan selalu melintas begitu saja. Dengan alunan suara kendaraan yang
begitu jelas, kukhalaykan sebagai music saja. Ku sandarakan diriku di kursi
berwarna coklat sembari mengetik sebagai pengganti menulis apa yang tengah
kualami.
Terlintas dipikiranku “aku harus secepat mungkin
menyelesaikan study ku dan bergegas meraih impianku yang selalu menjadi bahan
olokan dikeluargaku”. Mereka hampir selalu menganggap rendah impianku dan
mengatakan bahwa impianku sangat mustahil untuk kuraih. Impianku ini muncul
sejak usiaku menginjak umur seusia anak kelas 2 SMP hingga saat ini.
Aku ingin menjadi bagian dari dunia pertelevisian
tapi tidak untuk menjadi artis. Impianku adalah menjadi bagian dari crew atau menjadi editor jurnalis.
Karena impianku selalu menjadi bahan olokan keluargaku, aku ingin
membuktikannya secepat mungkin dan menjadi orang pertama yang menggeluti dunia
pertelevisian di sekolahku yang dulu.
Bekerja di dunia tersebut, aku kira sangat cocok
untukku yang selalu melihat suasana keheningan yang tak bertegur sapa yang
dilakukan kedua orang tuaku. Hobbiku adalah mengedit, ingin kujadikan hobbi
yang berbayar untuk membahagiakan keluarga-keluargaku terutama untuk kedua
orang tuaku. Dengan menggeluti dunia kerja seperti ini, aku rasa bisa melupakan
keburukan yang selalu ku alami disetiap bulan Desember.
Suasana hatiku saat ini tak memungkinkan untuk
menulis kenangan bahagia, karena yang ku alami saat ini adalah suasana yang
penuh dengan goresan luka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar