Rabu, 18 April 2018

DESEMBER



Aku terbangun di pagi hari yang mataharinya begitu cerah, tak seperti cerahnya suasana hatiku saat ini. Aku mengira jika pulang ke Kampung halaman adalah hal bahagia yang selalu dirasakan semua para pejuang perantau. Nyatanya hal itu tak sama sekali kurasakan saat ini.
Semua ucapan dari berbagai mulut yang pernah terlintas dipikiranku bahwa Pulang ke Kampung halaman membuat hati bahagia, tapi yang tengah kurasakan saat ini adalah penyesalan. Aku menyadari bahwa pulang ke Kampung halaman tak seindah yang ku dengar, aku menyesal.
Mataku menyapu ke seluruh langit-langit rumah, menahan amarah dan emosi tangisku adalah tujuanku menatap ke arah tersebut. Sungguh penyesalan dalam benakku ketika berada di kampung halaman, sebab aku melihat suasana gelap yang menyelimuti keluargaku. Orang tuaku yang terlihat akur dan baik-baik saja di depanku nyatanya tak seperti pikiranku.
Menahan tangis adalah hal yang paling aku benci, pikiranku lelah karena beban yang begitu terus menumpuk dengan waktunya. Aku mengira bahwa tugas yang begitu banyak menumpuk di hadapanku sebagai amanah adalah hal yang aku benci, nyatanya melihat suasana gelap seperti saat ini yang tengah menyelimuti keheningan rumahku adalah hal yang paling aku benci.
Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Aku memiliki kakak yang lahir dibulan Desember. Tapi Desember adalah bulan yang seperti duri yang menusuk kebahagiaan kakakku, nyatanya Desember adalah bulan yang kami berdua paling ingat dibenak kami. Bulan Desember adalah bulan dimana Orang tua kami selalu tak saling sapa. Aku berpikir bahwa suasana mereka tak saling sapa adalah hadiah terburuk yang dirasakan disetiap Kakakku bertambah usia.

Banyak komentar orang yang selalu terdengar ditelingaku bahwa kehidupanku adalah kehidupan yang sempurna, layak untuk dijadikan sebagai kebahagiaan. Namun semua tak seperti apa yang mereka katakana.
Banyak yang bilang aku adalah gadis manja Orang tuaku, sebab hampir setiap jam “handphone” putih yang selalu menemaniku selalu bordering pertanda panggilan masuk dari Orang tuaku yang menanyakan dimana dan sedang apa aku saat itu. Ya, semua itu benar, aku dan mereka tak pernah “Miss communication” dan aku bersyukur terlahir dari pasangan yang peduli denganku. Tapi bukan berarti kehidupanku selalu bahagia. Di Dunia, tak ada kehidupan yang sempurna seperti kesempurnaan Sang Pencipta.
Sempat pikiranku terlintas menyuruh mereka berpisah saja, tapi aku takut. Kakakku selalu merasa bahwa dia tak layak lahir karena bulan kelahirannya selalu menjadi bulan terburuk bagi keluarga kami. Beban pikiranku dan kakakku dipenuhi berbagai masalah. Tapi kami mampu menutupi semua itu. Bermuka dua adalah keahlian kami dalam menutupi masalah kami. Tapi benar, hati tak mampu untuk terus menutupinya.
Terkadang disetiap celah waktu, aku mengingat awal pertengkaran Orang tuaku. Saat itu usiaku masih berumur tujuh tahun, mengingat kejadian saat itu air mataku tak mampu untuk kutahan lagi. Setiap goresan kehidupanku yang paling menyakitkan pasti selalu teringat dan setetes demi tetes air mataku pun membasahi pipiku.
Saat suasana seperti ini pun pikiranku hilang dan tak tahu harus bagaimana. Diam dan mendoakan mereka adalah hal yang terbaik untuk saat ini. Aku dan kakakku bahkan mencoret bulan Desember dengan tinta hitam, dan kakakku tak pernah lagi merasakan ulang tahun yang sempurna seperti saat dia berumur 10 tahun.
Kami berdua tak mengharapkan kedatangan bulan kelahiran kakakku, sebab selalu nyata bahwa suasana gelap dan keheningan keluargaku selalu datang saat bulan Desember.
Kehidupan manusia bagaikan ombak, ombak yang kadang terus mengalir dan kadang juga beristirahat. Kadang kehidupan Indah dan kadang membawa bencana.
Suara kendaraan begitu jelas terdengar ditelingaku, letak rumahku di kampung halaman tepat berada di pinggir jalan poros yang kendaraan selalu melintas begitu saja. Dengan alunan suara kendaraan yang begitu jelas, kukhalaykan sebagai music saja. Ku sandarakan diriku di kursi berwarna coklat sembari mengetik sebagai pengganti menulis apa yang tengah kualami.
Terlintas dipikiranku “aku harus secepat mungkin menyelesaikan study ku dan bergegas meraih impianku yang selalu menjadi bahan olokan dikeluargaku”. Mereka hampir selalu menganggap rendah impianku dan mengatakan bahwa impianku sangat mustahil untuk kuraih. Impianku ini muncul sejak usiaku menginjak umur seusia anak kelas 2 SMP hingga saat ini.
Aku ingin menjadi bagian dari dunia pertelevisian tapi tidak untuk menjadi artis. Impianku adalah menjadi bagian dari crew atau menjadi editor jurnalis. Karena impianku selalu menjadi bahan olokan keluargaku, aku ingin membuktikannya secepat mungkin dan menjadi orang pertama yang menggeluti dunia pertelevisian di sekolahku yang dulu.
Bekerja di dunia tersebut, aku kira sangat cocok untukku yang selalu melihat suasana keheningan yang tak bertegur sapa yang dilakukan kedua orang tuaku. Hobbiku adalah mengedit, ingin kujadikan hobbi yang berbayar untuk membahagiakan keluarga-keluargaku terutama untuk kedua orang tuaku. Dengan menggeluti dunia kerja seperti ini, aku rasa bisa melupakan keburukan yang selalu ku alami disetiap bulan Desember.
Suasana hatiku saat ini tak memungkinkan untuk menulis kenangan bahagia, karena yang ku alami saat ini adalah suasana yang penuh dengan goresan luka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar